Ini tentang aku dan kamu, bukan kita
11.28 p.m.
Aku menulis ini ketika kantuk sudah merajai netraku. Aku menguap berkali-kali, tapi mataku enggan menutup. Lamunanku tertuju padamu. Aku rindu.
Ten, aku rindu kita. Tapi, tampaknya kau sedang sibuk dan tak mau diganggu. Atau mungkin kau sudah lupa akan diriku. Kita memang hanya betemu hitungan jari, tapi di kepalaku kenangan itu melekat walau singkat. Aku masih ingat bagaimana kau tersenyum, itu mendamaikan hati. Sungguh. Mengingat bagaimana kau menggenggam erat tanganku, seolah saat itu kau ingin berkata "Genggam saja dulu, soal takdir biarlah aku tak peduli".
Aku rasa ini hanya halu, sebab kini kau seolah jauh dan berlalu. Kau tak lagi khawatir tangisku pecah? Mungkin tidak lagi. Mungkin saat ini, di kepalamu tak ada lagi tentangku. Atau memang tak pernah ada. Lalu, pertemuan macam apa yang kita rayakan waktu itu?
"Bagaimana kabarmu?" Aku hanya bisa menerka-nerka. Tanpa pernah berani bertanya padamu. Ada banyak pertanyaan di kepalaku, dan sampai saat ini tak pernah kutemukan jawabannya. Sebab, kau adalah jawaban yang telah membisu.
"Kapan kembali?", tanyamu saat itu.
"Entah kapan aku tak tahu." Jawabku pelan
"Jangan lama-lama, akhir Januari aku mau ke Lombok"
"Hem iya"
Lalu, masihkah kedatanganku kau nanti? Kurasa sudah tidak. Kita sudah lama ya tak bertegur sapa. Bahkan hanya untuk bertanya soal kabar. Aku dan kamu ; telah asing di kepala masing-masing.
Kenapa jarak selalu mampu membuat manusia berubah. Mengapa tak bisa bersabar sedikit saja, sampai akhirnya waktu mempertemukan lagi. Aku terlalu percaya, bahkan saat semua yang kurasakan hanya semu belaka.
Katamu kau bukan ilusi. Tapi mengapa saat kucoba merengkuhmu, aku hanya mendapati bayangan semu.
Lantas haruskah aku percaya kepada laki-laki setelh ini? Haruskah aku mematikan lampu, lalu tak pernah menghidupkan lagi. Biar saja aku mati kepanasan di dalamnya, biar hatiku tak lagi merasakan perih.
Entahlah, aku tak tahu bagaimana membuat semua kembali pulih
Ruang Singgah,2020
Komentar
Posting Komentar