Postingan

Ini tentang aku dan kamu, bukan kita

11.28 p.m. Aku menulis ini ketika kantuk sudah merajai netraku. Aku menguap berkali-kali, tapi mataku enggan menutup. Lamunanku tertuju padamu. Aku rindu. Ten, aku rindu kita. Tapi, tampaknya kau sedang sibuk dan tak mau diganggu. Atau mungkin kau sudah lupa akan diriku. Kita memang hanya betemu hitungan jari, tapi di kepalaku kenangan itu melekat walau singkat. Aku masih ingat bagaimana kau tersenyum, itu mendamaikan hati. Sungguh. Mengingat bagaimana kau menggenggam erat tanganku, seolah saat itu kau ingin berkata "Genggam saja dulu, soal takdir biarlah aku tak peduli".  Aku rasa ini hanya halu, sebab kini kau seolah jauh dan berlalu. Kau tak lagi khawatir tangisku pecah? Mungkin tidak lagi. Mungkin saat ini, di kepalamu tak ada lagi tentangku. Atau memang tak pernah ada. Lalu, pertemuan macam apa yang kita rayakan waktu itu? "Bagaimana kabarmu?" Aku hanya bisa menerka-nerka. Tanpa pernah berani bertanya padamu. Ada banyak pertanyaan di kepalak...

Surat Balasan Terakhir

12.57 a.m. Aku terbangun dari tidur lelap, ku lihat jam ternyata sudah larut malam. Aku melihat hpku, tidak ada notifikasi spesial dari siapapun. Maklum, sudah menjadi wanita single sejak beberapa minggu lalu. Aku tersenyum, mengingat hal sederhana yang pernah ku dapati dulu. Seperti ucapan ; "Selamat tidur, selamat merajut rindu." Sederhana memang, tapi sudah cukup membuat hati seorang wanita senang. Hemm. Masih menunggu surat balasan dariku? Jika masih, ini kutulis surat balasan dari suratmu yang terakhir. Katanya surat cinta, benar? Eh bukan surat cinta-cintaan. Sebab, surat itu dibuat untuk menemani rasa sepi dari kita masing-masing. Tidak ada unsur apapun di dalamnya. Jadi, tolong beritahu mereka yang menaruh rasa cemburu berlebih padaku. Katakan, aku bukan siapa-siapa. Maaf baru sempat kubalas, sebab aku masih harus menemukan banyak kata agar tak salah berkata-kata di hadapanmu. Kak, bagiku kamu adalah cahaya di sudut ruang sepi. Menyala terang, menemani setiap...

Balasan surat ke-8 dan 9

1.52 a.m. Sudah dini hari rupanya, tapi kantuk enggan mendekatiku. Jadi, aku putuskan untuk membalas dua suratmu beberapa hari yang lalu. Maaf sedikit terlambat, sebab akhir-akhir ini keadaanku sedang tidak baik-baik saja. Terutama hati. Di surat ini ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, tapi sebelum itu berjanjilah untuk menjawabnya dengan jujur. Janji? Sudah janji, jadi harus ditepati. Pertama, siapa perempuan yang sedang kamu dekati saat ini? Katamu dia sudah dipepet orang lain. Kenapa diam saja? Kamu menyerah? Atau memang mundur sebelum berperang ? Hem simpan jawabannya ya ;) Kedua, kenapa akhir-akhir ini selalu berbicara cinta? Sedang jatuh cintakah ? Sama, simpan jawabannya nanti. Aku tunggu, jangan lupa dijawab. Hehe Kak, ketika aku mengirim ini padamu mungkin kamu sedang terlelap tidur didekap mimpi. Atau mungkin kamu bergadang sebab tugas-tugas ? Jika sudah tidur. Selamat tidur ya, semoga jodohmu menjelma menjadi awan teduh saat kamu berjalan tertatih di bawah ter...

Balasan surat ke 7

Hallo kak,  Sri sekarang sedang duduk di bus menghadap jendela. Entah kenapa, saat berpergian aku memang lebih suka duduk di sisi dimana bisa melihat jalan. Di luar orang berlalu-lalang, pun dalam pikiranku ada orang yang terbayang. Hari ini Sri ke Serang, Banten. Ke rumah Mbak. Sebenarnya, Sri takut kalau berpergian jauh sendiri. Tapi, tidak pernah ditampakkan sebab takut orang curiga, lalu membodohi ku di jalan. Jadi, aku pasang tampang berani saja. Biar tidak ada yang mengganggu. Hehe Di luar hujan begitu deras, membasahi jendela bus. Tapi tidak dengan pipiku, dia tak lagi basah. Meski ada rasa sedikit nyeri di dada, tapi ia tak lagi tumpah ruah seperti langit malam ini. Bus melaju lamban, sebab macet memang tidak pernah lepas sepanjang jalan.  Tiba-tiba bus berhenti, ternyata di depan ada mobil box bermuatan besi terbalik. Tidak tahu apa penyebabnya, apa karena jalannya licin atau gimana aku tidak paham. Aku kaget, mencoba melihat ke depan tapi pandanganku sed...

Suara Hati 01

#SuaraHati01 Ini bukan imajinasi, tapi memang suara dari dalam hati. Ada banyak suara berdengung memekakkan telingaku, namun entah mengapa suaramu masih begitu jelas terdengar tanpa sengau sedikitpun Aku sengaja menulis ini, bukan untukmu. Tapi untukku sendiri, sebab aku takut jika suatu saat nanti kepalaku tiba-tiba membentur batu begitu keras hingga memoriku tertebas. Jadi, setidaknya tulisan ini akan mengingatkanku. Bagaimana dulu aku menghabiskan waktu denganmu, bagaimana aku berjuang, bagaimana aku bertahan. Sampai dimana semesta mematahkan.  Dengarkan, biar ku bisiki pelan-pelan  Ini suara hatiku, semoga kamu mendengar dari jauh  Sejak saat kepergianmu, aku merasa menjadi manusia paling murung di bumi Di tempat ramai, aku bahkan selalu merasa sepi  Ini bukan alibi agar kamu akhirnya menaruh rasa simpati  Atau ini bukan cerita yang ku ada-adakan setelah semua berhasil kamu tiadakan  Ini tentang yang aku rasa,  tentang ha...

Balasan surat ke-tiga dari ke-enam surat

Selamat pagi kak,  Semoga hari ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Hemm, aku sudah tahu kalau flashdiskmu hilang ka. Semalam ada nomer baru yang menelpon ku, sepertinya dia mau bercerita tentang itu. Tapi, aku sedang kerja. Jadi, aku putuskan untuk mematikan teleponnya. Lantas, aku menghubunginya via WhatsApp.  Kak, ada suatu pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kata "Kehilangan". Kehilangan mengajarkan kita untuk benar-benar bisa menjaga apa yang sudah kita dapat, sebab yang ku tahu menjaga lebih sulit dibandingkan mendapatkan. Semoga flashdisknya lekas ketemu kak Tamimi. Aku tahu barang kecil itu teramat berharga bagimu. Jangan panik, coba tenang. Biasanya kalau tenang, ingatan akan muncul dengan sendirinya.  Kak, sebenarnya untuk menetap pada satu hati itu tidak mudah. Ada banyak sekali godaan. Sebab itu, sering kali orang yang katanya ingin menetap tiba-tiba memilih berbalik arah dan berusaha mencari tempat baru. Ada satu kata yang bisa membuat orang ...

Coretan Usang untuk Ibuku Tersayang

Coretan Usang untuk Ibuku Tersayang Terlihat raut wajah penuh guratan Tanda ia mulai menua Namun senyumnya tak pernah sirna Bagai lentera menembus dinding kaca Kutatap dirinya lekat-lekat Dari jarak begitu dekat Betapa selama ini ia menjalani hidup yang berat Namun, tak sedikitpun kesedihannya ku lihat Mungkin tangisnya pecah ketika ia sholat Aku menerawang jauh pada masa silam Dimana aku masih ditimang-timang, penuh kasih sayang Tangannya tak pernah lepas saat mengajariku berjalan Langkah demi langkahku ia tuntun penuh kesabaran Sungguh Ibu adalah malaikat nyata yang Tuhan kirimkan Bu, kini aku sudah dewasa Sebentar lagi aku akan menjadi ibu rumah tangga Dalam hati kecil aku tak mau meninggalkanmu sendiri Namun, anak perempuan harus menikah Lalu mengabdi pada suaminya Bu, dengan segala rasa hormatku Izinkan aku menikah, izinkan aku menyempurnakan sebagian iman seorang pria yang telah lama kuperkenalkan padamu Engkau tak  perlu khawatir Akan ku pastikan ia...