Ini tentang aku dan kamu, bukan kita
11.28 p.m. Aku menulis ini ketika kantuk sudah merajai netraku. Aku menguap berkali-kali, tapi mataku enggan menutup. Lamunanku tertuju padamu. Aku rindu. Ten, aku rindu kita. Tapi, tampaknya kau sedang sibuk dan tak mau diganggu. Atau mungkin kau sudah lupa akan diriku. Kita memang hanya betemu hitungan jari, tapi di kepalaku kenangan itu melekat walau singkat. Aku masih ingat bagaimana kau tersenyum, itu mendamaikan hati. Sungguh. Mengingat bagaimana kau menggenggam erat tanganku, seolah saat itu kau ingin berkata "Genggam saja dulu, soal takdir biarlah aku tak peduli". Aku rasa ini hanya halu, sebab kini kau seolah jauh dan berlalu. Kau tak lagi khawatir tangisku pecah? Mungkin tidak lagi. Mungkin saat ini, di kepalamu tak ada lagi tentangku. Atau memang tak pernah ada. Lalu, pertemuan macam apa yang kita rayakan waktu itu? "Bagaimana kabarmu?" Aku hanya bisa menerka-nerka. Tanpa pernah berani bertanya padamu. Ada banyak pertanyaan di kepalak...