Balasan Surat ke-Lima

Hallo ka, aku selalu baik meski sebenarnya sudah 3 tahun lamanya aku tak pernah merasa bahwa aku benar-benar baik. Sejak ayahku berpulang, aku mengenakan topeng berulang-ulang. Tidak banyak orang tahu bahwa sebenarnya aku rapuh, aku selalu meminta Tuhan untuk mengembalikan ayahku dalam pelukku lagi. Atau aku selalu berdoa agar Tuhan selalu memintaku pulang juga pada-Nya. Aku begitu egois bukan? Tapi tenang ka, aku masih berusaha untuk ikhlas semua. Karena memang sejatinya tidak ada yang kekal di bumi, kecuali yang Maha Kekal
Pagi ini ibu kota basah, sebab semalam hujan turun begitu derasnya. Jadi, tidurku sedikit nyenyak sebab dingin selalu mampu membuat kantukku cepat datang.
Hem by the way, ini surat kedua yang ku balas dari lima surat yang sudah kak Tamimi layangkan. Hehehe 
Maaf ya, bukan tak mau ku balas hanya saja aku tidak pandai merangkai kata yang akhirnya akan menimbulkan tanda tanya. 

Kak, jangan berkhayal untuk bisa memelukku. Sebab, aku ini kaktus. Nanti kamu akan terluka olehku. Memang begitu banyak orang yang ingin memelukku erat. Tapi, sayangnya aku telah lama jatuh kepelukan orang lain. Jadi, mungkin mereka juga senang berkhayal seperti yang kak Tamimi lakukan. 

Kak Tamimi tahu apa tidak ? Kak Tamimi adalah salah satu orang yang memahami ku tanpa harus aku jelaskan. Aku memang periang kak, sampai orang tak pernah tahu bahwa tangisku seringkali pecah ketika hendak melelapkan mata. 

Saat ini aku seperti burung dalam sangkar. Meski Tuanku tak pernah lagi merawatku dengan benar. Aku tidak pernah tahu mengapa Tuanku telah berubah. Mungkin dia telah menemukan burung yang lebih cantik nan menawan dibanding aku. Maklum ka, memang bosan adalah sifat manusia. Tapi meski Tuanku seperti itu aku tak mau pergi. Padahal jika aku mau, aku bisa terbang bebas di udara melecit ke sana ke mari. Aku masih ingin di dalam sangkar ini, meski nantinya aku harus mati terkapar. Bukan aku tak punya nyali untuk pergi, tapi sepertinya tubuhku sudah lelah untuk mencari Tuan baru. Jadi, kuputuskan untuk tetap menanti. Berharap suatu hari nanti, Tuanku menyadari bahwa hanya aku yang begitu sabar dan setia padanya. 


Kak Tamimi, aku lupa bertanya tentang kabar mama? Semoga selalu sehat, biar bisa melihat anaknya setiap saat. 
Kak, banyak-banyak lah bertanya kepada beliau bagaimana sifat asli perempuan. Agar nanti ketika kamu bertemu dengan wanita yang membuat hatimu menetap, kamu tidak lagi kaget jika menemukan hal-hal yang tak sesuai dengan ekspektasimu. 
Ingat ya ka jangan suka gombalin perempuan, sebab hati mereka lembut. Muda terhanyut.

Aku membaca Suratmi ini berulang-ulang, lucu bagiku. Aku tertawa kecil meski hatiku sebenarnya perih. 
Kak Tamimi, terimakasih sudah selalu ingat kepadaku. Betapa, sebenarnya di dunia ini banyak orang baik. Salah satunya kak Tamimi.

Selamat beraktifitas hari ini kak, jangan lupa baca novel romantis. Hehehe

Jakarta, 19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balasan surat ke-8 dan 9

Ini tentang aku dan kamu, bukan kita

R A G U