Balasan surat ke-tiga dari ke-enam surat

Selamat pagi kak, 
Semoga hari ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hemm, aku sudah tahu kalau flashdiskmu hilang ka. Semalam ada nomer baru yang menelpon ku, sepertinya dia mau bercerita tentang itu. Tapi, aku sedang kerja. Jadi, aku putuskan untuk mematikan teleponnya. Lantas, aku menghubunginya via WhatsApp. 

Kak, ada suatu pelajaran yang bisa diambil dari sebuah kata "Kehilangan". Kehilangan mengajarkan kita untuk benar-benar bisa menjaga apa yang sudah kita dapat, sebab yang ku tahu menjaga lebih sulit dibandingkan mendapatkan. Semoga flashdisknya lekas ketemu kak Tamimi. Aku tahu barang kecil itu teramat berharga bagimu. Jangan panik, coba tenang. Biasanya kalau tenang, ingatan akan muncul dengan sendirinya. 

Kak, sebenarnya untuk menetap pada satu hati itu tidak mudah. Ada banyak sekali godaan. Sebab itu, sering kali orang yang katanya ingin menetap tiba-tiba memilih berbalik arah dan berusaha mencari tempat baru. Ada satu kata yang bisa membuat orang menetap dengan tepat, yaitu "Akad". Suatu ucapan yang begitu sakral, hingga ketika ingin berpaling mereka harus kembali mengingat janjinya kepada Tuhan. 

Hem, siapa perempuan itu? Aku jadi penasaran. Heheh 
Tampaknya dia bisa membuat kamu berhenti mencari. Tapi, katamu dia sudah terikat dengan orang lain. Tak apa ka, sebelum akad diucapakan seorang anak perempuan tetaplah milik ayah dan ibunya. Memang tidak mudah mendekati perempuan yang sudah terikat dengan orang, sebab perempuan adalah makhluk yang tidak ingin meloncati pagar yang telah ia buat dengan besi. Jadi untuk meluluhkan hatinya, kak Tamimi harus besar hati. 

Boleh aku tahu bagaimana kamu ingin membunuh pacarku dengan puisinya? Bunuh saja, biarkan dia juga merasakan sekarat sebagaimana ia telah menebasku tanpa aba-aba lebih dulu. Aku saat ini berdarah karenanya, aku sekarat hampir mati. Sayangnya dia lupa aku perempuan tangguh yang tidak bisa ditebas dengan sekali tebasan. Dia lupa, bahwa sebelum ia mengecap pahitnya kehilangan, aku sudah lebih dulu kehilangan seorang laki-laki yang teramat aku cintai, yaitu Ayah. 

Kenapa ingin berbicara empat mata denganku ? Katanya, orang yang menatap mataku lama-lama bisa candu kak. Kamu tidak takut hal itu terjadi padamu? Atau kamu sudah menyiapkan tameng agar hal itu tidak menimpamu jua ? Tapi, kamu sudah pernah melihatku, berbincang denganku. Saat itu di beranda kampus, kamu mewawancaraiku tentang teater dan pasukannya. Aku masih ingat bagaimana kamu mendengarkan susunan kalimatku yang tak beraturan. Aku grogi sebenernya. Hehehe 
Nanti, kita atur jadwal ya. Akan aku jelaskan bagaimana caranya tidak ragu ketika mencintai,  meski kejanggalan kerap kali ditemukan di dalamnya.

Jakarta, 19



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balasan surat ke-8 dan 9

Ini tentang aku dan kamu, bukan kita

R A G U