Surat Balasan Terakhir
12.57 a.m.
Aku terbangun dari tidur lelap, ku lihat jam ternyata sudah larut malam. Aku melihat hpku, tidak ada notifikasi spesial dari siapapun. Maklum, sudah menjadi wanita single sejak beberapa minggu lalu. Aku tersenyum, mengingat hal sederhana yang pernah ku dapati dulu. Seperti ucapan ; "Selamat tidur, selamat merajut rindu."
Sederhana memang, tapi sudah cukup membuat hati seorang wanita senang.
Hemm. Masih menunggu surat balasan dariku? Jika masih, ini kutulis surat balasan dari suratmu yang terakhir. Katanya surat cinta, benar? Eh bukan surat cinta-cintaan. Sebab, surat itu dibuat untuk menemani rasa sepi dari kita masing-masing. Tidak ada unsur apapun di dalamnya. Jadi, tolong beritahu mereka yang menaruh rasa cemburu berlebih padaku. Katakan, aku bukan siapa-siapa.
Maaf baru sempat kubalas, sebab aku masih harus menemukan banyak kata agar tak salah berkata-kata di hadapanmu.
Kak, bagiku kamu adalah cahaya di sudut ruang sepi. Menyala terang, menemani setiap siapapun yang tersesat dalam gelap. Seperti, saat kamu menemaniku ketika tersesat dalam ruang pengap. Kamu datang, serupa lentera yang menyilaukan pandangan.
Katamu, aku manis. Eh manis apa cantik. Aku lupa. Terimakasih ;)
Kak Tamimi, terimakasih ya sudah mau menemaniku merawat luka-lukaku. Meski tak sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya aku sudah sanggup lagi berdiri di jalan berbatu. Hidup memang begitu, jatuh tersungkur lalu bangkit perlahan-lahan. Setidaknya, ada yang memahami keadaanku meski tak kujabarkan. Begitu peduli dan khawatir senyumku tak lagi merekah.
Aku masih tersenyum, bahkan saat menulis surat ini.
Kak, bagaimana? Masih mengkhayalkan sketsa wajah wanita itu? Sri doakan semoga bukan hanya sketsa namun menjadi hal nyata. Kamu orang baik ka, jodohmu pasti baik pula. Jangan melulu mengukur kecantikan wanita untuk dijadikan pendamping. Sebab, 20 tahun atau 30 tahun kemudian kecantikan akan sirna. Jadilah laki-laki mulia yang senantiasa memuliakan wanita. Dengan begitu, saat kamu temukan wajahnya keriput, kulitnya kasar, kelopak matanya tak lagi indah seperti hari ini. Kamu tak akan meninggalkannya dengan sengaja.
Cintailah wanita dengan hati yang jujur, bukan dengan pandangan yang menipu. Jangan sebab ia cantik kamu jatuh cinta, jangan sebab ia manis kamu ingin memilikinya.
Jadilah, laki-laki yang menjadikan wanita ratu di dunia pun menjadi ratu di surga nanti. Sebab, di surga ia akan muda kembali. Senyumnya ranum lagi, kulitnya sehalus sutra lagi. Ia akan terus menemanimu di surga dengan abadi.
Semoga Kak Tamimi begitu ya ;)
Kak, disini Sri hanya ingin bilang terimakasih. Mungkin surat ini isinya adalah ucapan terimakasih dan terimakasih. Kita masih bisa bertukar surat, meski bukan lagi surat cinta. Sebab, dari kita harus pandai menjaga perasaan orang. Terlebih lagi Kak Tamimi, pastilah ada wanita yang begitu cemburu denganku sebab surat cinta-cintaan ini. Sampaikan, salam maafku sudah membuatnya gelisah karena ulahmu. Hehehe
Kak, tetap seperti ini. Menjadi teman dalam menuang tulisan. Terimakasih sudah percaya aku mampu menggores tinta menjadi kata-kata. Aku akan terus menulis, bahkan saat tak ada yang mau membaca tulisanku. Aku hanya ingin terus, sebab aku takut tergerus. Dan hilanglah aku dari peradaban. Jika aku menulis, setidaknya ada jejak yang kutinggalkan.
Sri lapar kak, bangun tengah malam memang terkadang membuat cacing di perut kepanasan. Tidak ada yang bisa dimakan, kecuali kue manis di atas meja. Aku tidak suka manis, soalnya aku sudah manis. Hehe
Nanti yang melihatku takut terjangkit diabetes, kan susah aku yang mau mengobatinya. Heheh
Sudah ya ;)
Jangan lupa ceritakan padaku sektsa wajah wanitamu ;)
Kamar Sepi, 2020
Aku terbangun dari tidur lelap, ku lihat jam ternyata sudah larut malam. Aku melihat hpku, tidak ada notifikasi spesial dari siapapun. Maklum, sudah menjadi wanita single sejak beberapa minggu lalu. Aku tersenyum, mengingat hal sederhana yang pernah ku dapati dulu. Seperti ucapan ; "Selamat tidur, selamat merajut rindu."
Sederhana memang, tapi sudah cukup membuat hati seorang wanita senang.
Hemm. Masih menunggu surat balasan dariku? Jika masih, ini kutulis surat balasan dari suratmu yang terakhir. Katanya surat cinta, benar? Eh bukan surat cinta-cintaan. Sebab, surat itu dibuat untuk menemani rasa sepi dari kita masing-masing. Tidak ada unsur apapun di dalamnya. Jadi, tolong beritahu mereka yang menaruh rasa cemburu berlebih padaku. Katakan, aku bukan siapa-siapa.
Maaf baru sempat kubalas, sebab aku masih harus menemukan banyak kata agar tak salah berkata-kata di hadapanmu.
Kak, bagiku kamu adalah cahaya di sudut ruang sepi. Menyala terang, menemani setiap siapapun yang tersesat dalam gelap. Seperti, saat kamu menemaniku ketika tersesat dalam ruang pengap. Kamu datang, serupa lentera yang menyilaukan pandangan.
Katamu, aku manis. Eh manis apa cantik. Aku lupa. Terimakasih ;)
Kak Tamimi, terimakasih ya sudah mau menemaniku merawat luka-lukaku. Meski tak sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya aku sudah sanggup lagi berdiri di jalan berbatu. Hidup memang begitu, jatuh tersungkur lalu bangkit perlahan-lahan. Setidaknya, ada yang memahami keadaanku meski tak kujabarkan. Begitu peduli dan khawatir senyumku tak lagi merekah.
Aku masih tersenyum, bahkan saat menulis surat ini.
Kak, bagaimana? Masih mengkhayalkan sketsa wajah wanita itu? Sri doakan semoga bukan hanya sketsa namun menjadi hal nyata. Kamu orang baik ka, jodohmu pasti baik pula. Jangan melulu mengukur kecantikan wanita untuk dijadikan pendamping. Sebab, 20 tahun atau 30 tahun kemudian kecantikan akan sirna. Jadilah laki-laki mulia yang senantiasa memuliakan wanita. Dengan begitu, saat kamu temukan wajahnya keriput, kulitnya kasar, kelopak matanya tak lagi indah seperti hari ini. Kamu tak akan meninggalkannya dengan sengaja.
Cintailah wanita dengan hati yang jujur, bukan dengan pandangan yang menipu. Jangan sebab ia cantik kamu jatuh cinta, jangan sebab ia manis kamu ingin memilikinya.
Jadilah, laki-laki yang menjadikan wanita ratu di dunia pun menjadi ratu di surga nanti. Sebab, di surga ia akan muda kembali. Senyumnya ranum lagi, kulitnya sehalus sutra lagi. Ia akan terus menemanimu di surga dengan abadi.
Semoga Kak Tamimi begitu ya ;)
Kak, disini Sri hanya ingin bilang terimakasih. Mungkin surat ini isinya adalah ucapan terimakasih dan terimakasih. Kita masih bisa bertukar surat, meski bukan lagi surat cinta. Sebab, dari kita harus pandai menjaga perasaan orang. Terlebih lagi Kak Tamimi, pastilah ada wanita yang begitu cemburu denganku sebab surat cinta-cintaan ini. Sampaikan, salam maafku sudah membuatnya gelisah karena ulahmu. Hehehe
Kak, tetap seperti ini. Menjadi teman dalam menuang tulisan. Terimakasih sudah percaya aku mampu menggores tinta menjadi kata-kata. Aku akan terus menulis, bahkan saat tak ada yang mau membaca tulisanku. Aku hanya ingin terus, sebab aku takut tergerus. Dan hilanglah aku dari peradaban. Jika aku menulis, setidaknya ada jejak yang kutinggalkan.
Sri lapar kak, bangun tengah malam memang terkadang membuat cacing di perut kepanasan. Tidak ada yang bisa dimakan, kecuali kue manis di atas meja. Aku tidak suka manis, soalnya aku sudah manis. Hehe
Nanti yang melihatku takut terjangkit diabetes, kan susah aku yang mau mengobatinya. Heheh
Sudah ya ;)
Jangan lupa ceritakan padaku sektsa wajah wanitamu ;)
Kamar Sepi, 2020
Komentar
Posting Komentar